Minggu, 23 November 2008

yang terdahulu 2

bukan apa-apa
bukan apa-apa kalau aku masih di sini
bukan sesuatu unutk dipertanyakan bila aku masih berdiri
karena kadang berdiri lebih menyenangkan dari duduk
lebih berarti bila menatapmu sambil berdiri

menengoklah, bila hati ini mau menoleh
namun jangan berani-beraninya kau berpaling
bila diri minta asing

karena sungguh
yang kupertahankan bukan apa-apa
bukan sesuatu untuk dijawab

karena sungguh ini bukan apa-apa
ini cuma cinta
21/9-08
burung hantu
apa yang kupungkiri
kini kuhadiri
waktu tertawa melihat aku terus berdiri
tanpa tahu darimana asal muasal dari

mengapa ini makin mengasyikkan
terbenam aku di mimpi panjang
segala ingin kurentangkan
yang kemudian hanya tiada hilang

segala nampak jadi terburu-buru
karena tak ada lagi buat kutermangu
selain bentuk gerak dirimu
buatku ingin memanggilmu, ‘burung hantu!’
18/9-08
dengar ini, pak!
dulu kau tebar lembaran-lembaran itu, pak
berbaris kami di bawah terik
menunggu giliran amplop sampai di tangan

dulu kau hambur bingkisan-bingkisan itu, pak
berjejer, saling sikut di antara lengket peluh kami
berebut capai meja depan
tempat dua orang berbaju batik terduduk
kau berikan bersama beribu janji di balik seringaimu, pak!

kini kau tak pantas hidup, pak!
darahmu kian halal untuk anjing
tuntuanmu redam oleh hujatan kami
derai tangismu hanya jadi lelucon kemudian

mampus kau, pak!
api neraka siap rajam tubuhmu yang borok
borok akan janji palsu
pecut siap cungkil hatimu
hitam oleh darah kotor
kotor oleh makanan haram

tak perlu kau umbar lagi janji, pak!
bila semuanya dibuat untuk diingkar
tak perlu kau memohon pilihan
yang ada hanya ketentuan, pak!

matilah yang pantas membungkammu!
26/8-08
sendiri
atas: soetardji calzoem bachri

sepi bertumpuk sipu
sipu bertumpuk sapa
sipu disapu sapa
sapa sipu sepi sapa
sepi sapu sapa sipu
sepi sepi rindu sapa
sipu sipu ingin sapu
buang sipu disapu sapa
pergi sepi disapa sipu
hadir sapa timbul sipu
hadir sapu timbul sepi
sepi sepi suka diri
sapa sapu sepi
pergi tak berarti menanti

20/8-08

tundukkan aku
berfoya-foya di atas peluh mereka
bergelak di balik rintihan mereka
betapa hinanya diri ini
aku memang tak berhati

dongak kepala ini itnggi-tinggi
tak pernah akal hinggap kesusahan mereka
yang ada diri ini pulang pergi
kembali lagi ke keriuhan yang hanya direk-reka

malu hati terpana diri
bahwa kenyataan tak selalu seperti itu
seperti yang selama ini kujamahi

jiwa ini berontak
mencari waktu yang bergerak
meski yang kemudian yang bergerak tinggal kerak

ampun, tuhan
bukan sembunyi yang kutuju
bukan tamak yang kuanut
demi kau kepala ini telah senut
membuat jantung susah berdenyut

kembalikan diri ini keasuhanmu


20/8-08

untuk seribu jeda
sanubari ini tertekan memandang
berkiblat pada azas yang itu saja
apa yang diresap kemudian hilang
namun kini waktu seberat baja

lebah, kutatap kau untuk seribu jeda
meski racunmu tersari di dada
seluruh bisamu meracun jiwa raga
yang kuanggap berarti jadi tak berharga

hati makin tak mengerti
kurasa waktu tak ingin berdetak
malu pada apa yang selama ini kunanti
tak tahu akan seperti apa kelak
pedih
perih
merintih

kalau memang ini bukan masaku
jangan kau tumpahkan asa itu
segala jadi sia-sia, aku tak mau

lebah, berhentilah mendengung
hati tak sanggup lagi mengurung
henti
lalu mati


19/8-08

fana
lelaki, kutatap kau demi semua jeda
beribu pinta pendam sanubari
seluruh detak runtuh di dada
lumpuh jiwa tak kuat berlari

walau peluh tak dielakkan
pasti perang ini berakhir titik
meski apa yang dipertanyakan
hanya tinggal sembunyi gemerisik

karena di setiap jengkal waktuku
padamulah rintih ini merayap
meremukan segala kaku di tubuhku
membuat apa yang dirasa tak menyerap

lelaki, kujamin kau atas kelip di atas sana
di sebelahnya matahari duduk tenang
menertawai segala fana
membentang lengannya paling rentang

lelaki, bagaimana aku bisa membuat ini nyata
kalau aliran yang tetes mengendap
dan akhirnya semua berpulang pada yang tak pernah rata

walau yang dirasa tak pernah menyerap


14/8-08

Tidak ada komentar: