Minggu, 23 November 2008

lebahati

lebahati 1
pada akhirnya tak satu pun kata yang terdengar
hanya senja meranggas malam, habis ranggas kemudian pecah
hanya gemerisik jiwamu yang tak redam olehnya

pada akhirnya tak satu pun kata yang terucap
hanya biji matamu yang seredup hatimu
yang lalu terbenam menusuknya bulan

kalau malam tak sanggup menimba
apa fajar tetap sembunyi di bawah kakinya
tak elak ia hadir tanpa tembakau menyala
ranumnya daun hitam menjamah paru-paru

benarkah itu ronamu yang dulu
yang kemudian tumpah ruah
di sudut mata agungmu
hati ini hanya sanggup menguncup
sembunyi di balik mulianya perasaan

terdiam
tenggelam
terpejam

pada akhirnya tak satu pun kata yang terbilang
hanya keegoisan ini yang sanggup merajammu
juga menampungmu

pada akhirnya tak satu pun yang kita lakukan
kecuali cinta

14/07-08

lebahati 2
di sini jam tak bergerak
semua henti, malu pada jeda
lenggang kemudian hati berderak
menjunjung pada asas yang tak pernah ada

detik layaknya bayangan selanjutnya
akan lalu habis lagi di pangkal lidahmu

detik tahta renggut munafik
remuk jasadnya di balik denting tabir

18/7-08

lebahati 3
sejak kapan cinta dilarang
sejak tuhan tahu dia akan minum racun
ketika semua akhirnya ada
tapi atas segelombang dayu perih

sejak kapan cinta dinista
sejak dia ingin menikahi induknya sendiri
jejer gunung pecah oleh perihnya
daun ranggas bukan cokelat, putih

sejak kapan cinta dipertanyakan
sejak jasadnya lahir
namun rerupaan tak suatu pun untuk dijamah
berat hati menumpu satu sudut

sejak kapan cinta dilarang
sejak itu engkau

20/07-08

lebahati 4
ketukan di dahi rampas sisa dentum
temuan hati terka aroma tubuhmu
tunduk asa tampak air
itu mengapa lagi-lagi?
suatu penerangan pecah seribu kemelut
temuimu, kilas binar nanarmu
tak kuat hati memandang
sembunyi riuhnya lelucon
maaf, lebahati, bukan makna ini untuk remukanmu
hanya satu retakan kemudian lainnya
engkau mengapa lagi?

22/07-08

lebahati 5
setiap detik mengalir padamu
gelak redup segala sakit
bahwa apa yang lintas lalu
bukan untuk kemudian pahit
tapi hanya pamit

gelak redup segala retak
rindu hanya sejengkal janji
tak semua yang ada di otak
ada di hati

layaknya engkau

28/07-08

epilog lebahati: keperihan munafik
sudahlah, memang bukan masanya
daripada menjadi sesuatu yang tak pernah kasat
hapuslah, pergilah engkau!

beribu syair berkiblatkan padamu
hingga jiwa ini tak lagi sanggup meramu
rerupaan yang kian semu

bangku dan kala menjadi saksi
atas semua kebisuan yang kita buat
berat dan mencuat
yang akhirnya membuat diri tak lagi kuat

kalau memang tak pernah kau rasa
jangan buat aku memiliki asa
tak pelak semuanya hadir untuk sia-sia
merenggut detik yang akhirnya terpejam
meredam, awak amarahku

teriakanlah “tidak!” itu
agar aku dan orang-orang itu tahu
apa yang kukorbankan bukan lagi sesuatu
tahu-tahu hanya batu
meringkuk lalu jadi busuk

epilog:
ya, berbohong dan menunggu
itu munafik
itu manusia, lebahati

ya, itu aku

12/8-08

Tidak ada komentar: