pada akhirnya tak satu pun kata yang terdengar
hanya senja meranggas malam, habis ranggas kemudian pecah
hanya gemerisik jiwamu yang tak redam olehnya
pada akhirnya tak satu pun kata yang terucap
hanya biji matamu yang seredup hatimu
yang lalu terbenam menusuknya bulan
kalau malam tak sanggup menimba
apa fajar tetap sembunyi di bawah kakinya
tak elak ia hadir tanpa tembakau menyala
ranumnya daun hitam menjamah paru-paru
benarkah itu ronamu yang dulu
yang kemudian tumpah ruah
di sudut mata agungmu
hati ini hanya sanggup menguncup
sembunyi di balik mulianya perasaan
terdiam
tenggelam
terpejam
pada akhirnya tak satu pun kata yang terbilang
hanya keegoisan ini yang sanggup merajammu
juga menampungmu
pada akhirnya tak satu pun yang kita lakukan
kecuali cinta
14/07-08
di sini jam tak bergerak
semua henti, malu pada jeda
lenggang kemudian hati berderak
menjunjung pada asas yang tak pernah ada
detik layaknya bayangan selanjutnya
akan lalu habis lagi di pangkal lidahmu
detik tahta renggut munafik
remuk jasadnya di balik denting tabir
18/7-08
lebahati 3
sejak kapan cinta dilarang
sejak tuhan tahu dia akan minum racun
ketika semua akhirnya ada
tapi atas segelombang dayu perih
sejak kapan cinta dinista
sejak dia ingin menikahi induknya sendiri
jejer gunung pecah oleh perihnya
daun ranggas bukan cokelat, putih
sejak kapan cinta dipertanyakan
sejak jasadnya lahir
namun rerupaan tak suatu pun untuk dijamah
berat hati menumpu satu sudut
sejak kapan cinta dilarang
sejak itu engkau
20/07-08
lebahati 4
ketukan di dahi rampas sisa dentum
temuan hati terka aroma tubuhmu
tunduk asa tampak air
itu mengapa lagi-lagi?
suatu penerangan pecah seribu kemelut
temuimu, kilas binar nanarmu
tak kuat hati memandang
sembunyi riuhnya lelucon
maaf, lebahati, bukan makna ini untuk remukanmu
hanya satu retakan kemudian lainnya
engkau mengapa lagi?
22/07-08
lebahati 5
setiap detik mengalir padamu
gelak redup segala sakit
bahwa apa yang lintas lalu
bukan untuk kemudian pahit
tapi hanya pamit
gelak redup segala retak
rindu hanya sejengkal janji
tak semua yang ada di otak
ada di hati
layaknya engkau
28/07-08
epilog lebahati: keperihan munafik
sudahlah, memang bukan masanya
daripada menjadi sesuatu yang tak pernah kasat
hapuslah, pergilah engkau!
beribu syair berkiblatkan padamu
hingga jiwa ini tak lagi sanggup meramu
rerupaan yang kian semu
bangku dan kala menjadi saksi
atas semua kebisuan yang kita buat
berat dan mencuat
yang akhirnya membuat diri tak lagi kuat
kalau memang tak pernah kau rasa
jangan buat aku memiliki asa
tak pelak semuanya hadir untuk sia-sia
merenggut detik yang akhirnya terpejam
meredam, awak amarahku
teriakanlah “tidak!” itu
agar aku dan orang-orang itu tahu
apa yang kukorbankan bukan lagi sesuatu
tahu-tahu hanya batu
meringkuk lalu jadi busuk
epilog:
ya, berbohong dan menunggu
itu munafik
itu manusia, lebahati
ya, itu aku
12/8-08
Tidak ada komentar:
Posting Komentar