Selasa, 18 Agustus 2009

KALAH - MENANG

Setelah bertahun-tahun hidup dan mempelajari hidup, saya menjadi seseorang yang tidak terlalu kecewa saat kalah, juga tidak terlalu senang kalau menang. Buat saya kalah-menang hanya seleksi umum, biasa saja, seleksi yang dibuat oleh manusia, untuk menyeleksi atau menentukan kelanjutan dari usaha manusia lain. Seleksi itu membuat manusia berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Bukannya saya tidak mau mencapai gerbang 'terbaik' itum tapi saya tidak terlalu peduli dengan gerbang itu, karena saya lebih peduli untuk mencapai gerbang yang terdapat sebelum gerbang tersebut, yakni gerbang ketulusan. Yang pentin gyang ini dulu dilewati. Karena saya berusaha untuk Tuhan, diri saya, orang tua saya. Ketiganya itulah yang boleh menyeleksi atau menentukan jalan saya selanjutnya, bukannya malah manusia lain. Makanya, ketika mereka memberitahu saya kalau saya telah menang atau pun kalah, reaksi yang saya berikan sama: tidak percaya. Pastilah mereka bukan Tuhan, diri, atau orang tua saya. Karena ketiganya tidak akan pernah mengatakan atau memberitahu saya telah kalah atau menang. Saya sendiri tidak tahu apa alasannya. Mungkin ketiganya tidak tega.

Kamis, 09 Juli 2009

SEJUTA KALI

Saya masih duduk di depan teve ketika jam mulai merambat waktu di pukul tiga pagi, rumah baru saya jejaki pada setengah duabelas tadi, lagi-lagi perempuan itu harus mengubur dalam-dalam mimpinya untuk memutar kunci pintu depan dan masih membiarkan saya masuk ke dalam rumahnya. Saya baru sadar betapa cocoknya antara televisi dan saya, ketika saya merasa ada hujan asin luntur di pipi saya. Untuk yang kesejuta kali: maaf, bu.

Jkt, 21/6-09

Selasa, 23 Juni 2009

purnama dalam sekelebat mendung

hei, kau yang angkuh di atas sana
baru tiba kau di peraduan?
wajahmu begitu pucat merana
muncul mengantarkan tangisan

aku nanti kau. berkali-kali sudah
kutengok rahim hujan
untuk sekedar merambah
kau pun tak juga sungkan

langit sesenggukan
aku tinggalkan dia yang sebelah sana

tak tahu malu, tak tahu diri
di sini rupanya kau tampakkan diri
jauh-jauh diciptakan untuk kabarkan rindu
untuk beberkan betapa lemahnya waktu
dibandingkan dirimu

o, kau yang pucat di sana
harusnya Tuhan penuhkan kau
malam ini

tak tahukah kau pun cuma benalu

aku rindu
Jkt, 13-6-09, 11.52 pm

kumbang

detik terkamku cekamcekam
sembilan puluh ribu detik
di setiap kelamnya
gelank dikungkung orang di hadao

ngiungnya melingkup seluruh ruangan
darah siap berhenti mendesir
napas seketika menderu-deru
jam mulai berlari mundur
tanpa menoleh!

nging..
kumbang kuasai rohku
9-6-09

REFLEKSI

mengapa itu tidak untuk makan saja?
“kalau makan, percuma, nanti akan lapar lagi. lebih baik begini. tidak makan, lapar terus-menerus. lebih baik untuk merokok. semuanya hilang kalau merokok.”
mengapa tidak merokok saja tadi?
“kalau merokok lagi, nanti ketagihan kagi, kecanduan. lebih baik seperti ini. asam, tersiksa terus-terusan. lebih enak kalau tidur saja.”
lalu kau tidak tidur?
“untuk apa? kalau tidur, lalu nanti bangun. setelah bangun nanti akan ngantuk, ingin tidur lagi. lebih bagus mati. semuanya selesai kalau mati.”
ya sudah, matilah.”
“kalau mati, ya nanti akan hidup kembali karena katamu kan ada kehidupan setelah kematian. harusnya aku diam saja.”
aku lekas berteriak dengan lantang, “jangan!” pada bayanganku di cermin itu.
ternyata aku masih punya kekuatan untuk memelihara nurani.

kenangan

sudah lama diam menjadi dingin
sudah lama pengap jadi hangat
sudah lama tatap jadi rindu
tapi ini masih jalan diponegoro

BETAPA PUN

betapa pun saya bukan siapa-siapa untukmu. tidak akan bisa menjadi ‘dia’ yang kau inginkan. sebagaimanapun saya berusaha, itu muskil. segala yang saya harapkan cuma tinggal khayal belaka. tapi perasaan bukan sesuatu yang bisa berbohong dan dibohongi. mengapa harus berjuang dan bertahan dalam kepura-puraan, kalau kita diberikan kesempatan untuk menjadi jujur dan apa adanya dan pasrah? semua sudah diatur, semua sudah tersedia, tinggal kita yang menyelesaikan, dengan sebaik dan setepat-tepatnya.

maka kalau kau menemukan saya masih juga bertahan dalam sesuatu yang kau anggap pretensi saya yang kesekian, jangan heran, tidak perlu heran. karena semua sudah diatur, tinggal saya yang menyelesaikan dengan sebaik dan setepat mungkin. namun bagi saya saat ini bukanlah waktu yang baik dan tepat untuk berhenti berjuang dalam kepura-puraan, karena bagaimanapun segala penipuan ini amatlah nikmat. entah kenapa memang dari dulu manusia lebih suka yang beresiko daripada yang sudah sesuai pakem.

Jumat, 22 Mei 2009

Selama ini...

SELAMA INI DI BULAN:

JANUARI

keberadaanMu

akal makin runyam dibabat jarak

terkaparlah aku pada dunia yang siap retak

tersentak lagi akan rancunya arah

bagaimana bisa begitu resah

terus menggali dari ranah yang kian amblas

pelita jadi gelap coba merambas

kala panggilan agungMu bersuar

detik tuntun aku jadi gusar

sunyi penuh bualan

di dalamnya setansetan

siapa yang mereka cari

siapa yang Engkau lindungi

haruskah aku terjerembab lagi

bayangbayang merah terasa hangat di selatan

mereka mengepungku!

apalagi yang Kau sahuti

cepat buat ini jernih

sebelum masa meniti

bulir kering

dengan mudahnya bulir air jadi riak di sungai

tak pernah ada yang tahu dimana hilirnya

bukan pula di puncak

bulir itu tak hanya mengalir

juga berloncatan seperti pikiran

yang suka membuat kepala tertarik ke belakang

bukan menantang hukum alam yang ia anut

dia hanya ingin jadi riak yang berderak

namun bukan yang biasa diinjak

kapalkapal tukang dongak

tetap saja air mengalir

dari hilir

jadi riak bersama bulir

lainnya, di manakah muaranya

peluang merenggang

bulir jadi geram

ia tak mau bermuara dalam diam

beriak bersama detik bagai wadam

tinggal suram di pangkal malam

hukum alam taruhannya

dia bergeming

bulir memaksa kering

riak muara tak temukan bulir air lagi

sungai tinggal akhir dari limbah bualan

o bulir, kau cuma khayalan

lakon apalagi kini

macam penari punyai seribu topeng

hendak jadi siapa kau kini

sebarkan tabirtabir kehidupanmu

sampai mereka pun urung menebakmu

makin pandai kau bermulut tebu

bersungutsungut tapi nampak sipusipu saja

berkemelut sungkan bermuran durja

tungku jadi panas namun kelopak tetap bak puspa

darimana kau belajar semuanya

berhasil kau hanyutkan

aku dalam derasnya bualan

kemudian angin selatan

berhembus, mengabrasi keruhnya keadaan

belum ada yang bisa melakon di balik

detikdetik

ini, tak juga engkau

tak tersisa secuil pun larik

untuk kau jungkir-balikkan

hendak jadi apa kau kini

untuk eM

setetes tercurah di dada

segumpal ludah dari bara

lompat ke dalamnya

menyambar, meledak dalam gelap sunyi

siapa yang sanggup meredamnya

buncahan ompong

panas; ujung daun hangus olehnya

meretaklah di sanubari

di seberang tak ada kurangnya

tak seperti pada diri

seutas tali melilit

buat darah berhenti mengalir

terbayangkan relung jadi sempit

panggilanNya pun cuma semilir

kuning

kita cuma

rasa tanpa jiwa

maka hati-hatilah

mereka tak lagi sibuk dengan tanda

sebab kita sedang mencari selanya

buat eR

Betapa pun aku cuma

bara di dalam sumsummu dan retina.

Menyeruak. Begitu hangatnya

sampai ubunubun. Bilakah

suram tinggalkan pelita?

ketika cuma kita yang harus dipikirkan

rindu

buat ususku

tak mau

dirayu

FEBRUARI

di saung

matahari baru saja menjernihkan

asap hitam bekas kemarin. embun juga masih malas

luluh dari ujung daun. namun paru-paru

telah siap diracun.

maaf, wanita. jangan sampai lalat

menjamah tudung sajimu. dia menyaksikan

aku pergi untuk bersembunyi. demi tuhan

aku muak

dengan panas yang sama. pecahan

yang sama.

di sini mungkin tidak lebih baik

bila aku benar-benar pergi.

cuma aku dianggap waras di sini.

terlihat waras meski ini cuma

pretensi kesekian.

biarlah tuhan yang masih lelap

pelak menontonku sedang bersandiwara.

maaf, ibu. aku

tidak pergi belajar.

perjalanan

latar hamparkan kejenuhan. beralasan atau tidak itu urusan nanti. maka dibawanyalah tungkai ini ke tanah paling gersang. tebet, tanjung mas, universitas pancasila. sampailah kita tanpa disengaja.

kulitnya kita tanggal, akhirnya pun tak kita selesaikan. kita cuma kurir tanpa pendirian. rasanya seribu tahun mendakinya. namun menuruninya kita bersama jam pasir.

apa ini? bentuk kepasrahan diri? tak mengapa, ini cuma sesat yang nikmat. mulailah perasaanku diruncing menyaksikan selendangnya terhampar di naungan sang biru. aku sadar kita semua memang punya lakonnya sendiri. juga engkau.

naungan jadi hitam pekat. keduapuluh matamu menghujat. kutatap kau dalamdalam. rengekan anak kecil, sepatunya yang berisik, gaungan riuh kesenangan. semua itu tak lagi kudengar. mungkin inilah waktunya aku percaya padaMu.

satupuluhtujuh

: Astri Purnama Sari

kau ulangi lagi hidupmu yang kesekian

ketahuilah hidup itu tak hanya sekali

tatkala memang tak secuil pun dapat terulang

maka ratakanlah di jalan yang sama

semuanya punya giliran

tentang hidupmu, sama sepeti hidupku, dia, mereka

tak perlu kelabu membumbung

tinggal resah disamar gelak

terjun gelisah di lepas riang

tak perlu kau bayangkan mengapa ini

begitu lancarnya

di lingkaran ini kita tinggal berlari

dia bisa menjadi segitiga atau persegi

berbeloklah ketika kau temui tikungan

ketika ini bercabang dan kau tak punya kompas, peta,

bahkan tuhan

aku siap jadi semua itu

MARET

ulang tahun

: Minang biru

daun cokelat sudah hangus berkali-kali

membayang-bayangi bentangan angkasa

yang hendak mencapai tepinya

gemericik itu semakin membekukan angin

tinggal gemeletukku yang belum juga

bersambut.

sebentar sebelum tepi

ia melebur jadi satu lagi

dua warna itu telah hilang

mengantarku untuk samapi ke harimu

di balik bayangmu

aku terhuyung

maka aku patri darahku

untuk tetap tersendat di bangku kayu ini

sampai langit tak sanggup lagi

melayangkan warnanya

dan saat itulah kau terima

suratku yang tak pernah sampai

APRIL

buaian ke dalamNya

: Situ Gintung

terhampar aku di kumpulan kapuk rata

imaji sudah tak mengerti hendak ke mana

diri begitu dekatnya dengan maut

di samping, depan, atas, belakang, bawah

dia bentangkan rahang lebarlebar

begitu dekatnya

namun belum sampai

menyaksikan air bukan lagi untuk bersayup mendayu

tanah sudah begitu terlenanya

hingga terbuai jadi garang

air petikkan dawainya sampai

tanah mengayuh makin dalam

terjang! jangan ragu!

lantakkan semua penyombong di bawah

rendah, namun dagu menempel di pinggir awan

biar deru leleh itu jadi sungai baru

di mata kalian

bentuklah sana lagi sendiri

oleh ratapan tak berujung kalian

pelita yang padam untuk sementara waktu

dan kalian akan mendayuh ke sana juga

dan sekarang

cukup.

jangan teruskan gelunganmu, dentarmu.

kami telah bergegas ke dalamNya

yang sedalam-dalamnya.

pecah

gelak sudah kita lahirkan jadi gunung

derai sampai jadi sebuah telaga

hingga bumi kita lahap habishabis bersama

tak bersisa, nonanona. lalu mengapa

gunung muntahkan lahar?

membentuk kali deras tanpa ampun

kini segalanya tercipta jadi dua.

aku pergi bukan tak kembali.

terlalu lamakah sampai harus ada sungai

merentang. merentang di antara

gemunung yang telah kita lahirkan dari

rahim kita semua.

nanti aku. kan kubendung kegandaan itu.

meski diri juga sempat tergulung lahar

bukan berarti cuma sungaisungai

lagi yang kuciptakan. haruskah

(sebenarnya) gunung dan telaga itu kita

susui?

kau tinggalkan aku tenggelam

ke lautan es. terlalu.

TAK SATUPUN

Seorang kaya bingung mau membuang hartanya kemana lagi. Dulu ketika baru menjadi orang kaya dia suka menghambur-hamburkan uangnya untuk berfoya-foya, menikmati surga duniawi. Pergi ke klab malam, mabok-mabokan, menyewa wanita di sana untuk ditiduri. Pokoknya yang bejat-bejat sudah pernah ia lakukan.

Setelah bosan dengan segala kenikmatan berdosa itu sekarang ia berubah menjadi orang alim. Uangnya pergi ke kotak amal, ke tangan fakir-miskin dan anak yatim, juga tumbuh menjadi sebuah masjid. Kalau di masjid itu diadakan acara, tanpa tendeng-aling orang kaya itu akan segera merogoh koceknya dan dengan nama “Hamba Allah” ia selalu mejadi penyumbang dengan jumlah paling besar.

Belum puas dengan segala kebaikan itu dia berusaha mencari wadah di mana lagi akan membuang hartanya. Ketika sedang berkeliling kota diantar supir dengan mobil mewahnya, orang itu mendapatkan jawabannya.

Ketika ia hendak mengunjungi kolong jembatan lainnya, setelah dua kolong ia kunjungi, ia dapati mobil mewahnya sudah hancur. Semua kacanya pecah. Bannya kempes. Bodinya penyok. Hancurlah pokoknya. Supirnya sendiri sedang terbatuk-batuk di pinggir jalan yang sepi dengan muka babak belur. Namun kesepian itu hilang ketika orang kaya itu ingin menghampiri supirnya. Segerombolan orang berlari ke arahnya dengan muka garang. Segera tanpa ampun orang kaya itu dihabisi. Dia menyesali satu hal: mengapa tak satupun yang memberitahunya kalau waktu itu masih hari kampanye pemilu?

RUNTUH

Saat aku sedang berlayar dengan tenang di lautan esku, seorang perompak dengan perahu yang lebih kecil dari punyaku merebut perahuku. Dia ceburkan aku ke lautan esku dan membawa kabur perahuku. Namun belum seberapa jauh ia berhenti, meledekku, menantangku untuk merebut kembali perahuku itu. Biar. Aku tak peduli. Biar. Aku mau tenggelam ke lautan esku. Tapi saat aku hampir mencapai dasarnya, aku teringat wanita itu. Maka aku berenang kembali ke atas lalu terus berenang ke perahuku yang telah direbut. Aku tahu perompak itu cuma ingin melihat jelas akan kekalahanku atas dirinya. Maka setelah aku memenuhi kemauannya yakni menjilati jempol kakinya tiga kali, ia serahkan kembali perahu pemberian dari wanita itu. Ah, bahkan sampai ideologiku pun runtuh hanya demi wanita itu. Wanita yang bertahun-tahun ini kupanggil “Ibu”.

BOM

Aku beli bom di perempatan jalan sana. Aku beli sekaligus dua. Masing-masing aku selipkan di dalam otakku dan hatimu. Kata si penjual bom itu akan meledak kalau yang memilikinya berpikir bahwa bom itu bisa dan akan meledak. Maka kita serentak berjalan beriringan agar lupa bahwa bom ini bisa dan akan meledak. Namun tiba-tiba setelah cukup lama berjalan kita sama-sama ingat dan berpikir bahwa bom yang terselip di dalam badan kita bisa dan akan meledak. Kita saling bertatapan untuk menyaksikan keledakan masing-masing. Tapi tak satu pun dari kita yang meledak. Kita menoleh ke belakang, saking seriusnya berjalan kita sampai tidak tahu bom itu sudah meloncat keluar sendiri dari badan kita. Saat kita saling berpegangan tangan aku dengar suara ledakan yang sangat keras. Kita memang tak perlu membelinya di perempatan jalan, kita tak perlu menyelipkannya di otak atau di hati, ternyata kita tak butuh dia untuk meledakkan diri sebab kita sendirilah bom itu.

SEPI

Seekor burung terlambat kabur ketika ia dan kawanannya menjadi sasaran tembak pemburu. Dia sudah pasrah kalau mau diambil nyawanya, ambillah, karena kawan-kawannya telah jatuh tewas. Tapi ternyata tiba-tiba pemburu itu diserang sakit peruh yang sangat. Maka pemburu itu lari terbirit-birit mencari tampat buat buang hajat. Burung itu membuka matanya karena sudah lama ia merem menanti mautnya yang tak pernah sampai. Dia bersyukur masih diberi kesempatan hidup oleh Sang Pencipta. Tiga hari setelah kejadian itu burung itu merasa sedih, kini ia hidup sendiri tanpa keluarga, teman, kekasih, bahkan musuh. Dia memekik dengan lantang ke langit, “Kenapa waktu itu aku tak mati saja?” Entah kepada siapa. Tak lama setelah ia berteriak penuh sesal, jatuhlah koran pagi langganannya dari langit seperti biasa. Headline pagi itu: “In Memoriam: Seluruh Pemburu Burung di Dunia”.

BUNTU

Seorang penyair kerjaannya cuma sibuk sendiri di kamarnya. Konon ia hanya membaca, menulis, lalu membaca dan menulis lagi. Dia keluar dari kamarnya hanya sekali setiap hari. Saat keluar itulah dia melepaskan dahaga, lapar, serta buang hajatnya yang sudah ia tahan-tahan. Begitu banyak yang sudah ia baca, tak sedikit juga yang sudah ia tulis. Tak ada yang berani memasuki kamarnya tanpa seizinnya. Tapi pada suatu hari, yang kebetulan hari ulang tahun penyair itu, teman-teman dekatnya rindu dan datang ke rumahnya dan tanpa ragu-ragu memberinya kejutan, “Selamat ulang tahun!” mereka berbondong-bondong masuk ke kamarnya. Penyair itu tertegun kaget. Kagetnya baru hilang setelah diberi minum segelas air putih. Ia sadar dan seperti measa menemukan dunia baru. Selanjutnya tak ada lagi buku tersentuh tangannya juga tak satupun bovel, cerpen atau sajak yang tercipta atas nama dirinya. Maka jangan pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepada penyair karena itu hanya akan mematikan kreatifitasnya, karena dia sendiri tidak tahu kapan ia lahir, karena setiap melahirkan sebuah karya saat itulah ia merasa dilahirkan kembali.

KATA SIAPA

Kata siapa manusia tidak bisa hidup tanpa cinta? Bisa jadi itu tak sepenuhnya benar. Karena sejak kapan diri saya dipenuhi cinta? Saya tidak butuh hal-hal yang tidak mengenyangkan perut saya, maka untuk apa saya bawa-bawa cinta dalam setiap perbuatan saya, pikiran, emosi, perasaan saya? Buat apa saya ajak dia dalam setiap kepergian atau perjalanan saya? Barangkali cinta memang tak dibutuhkan, tapi saya butuh satu keraguan yang membuat saya tetap hidup. Keraguan untuk membenci.

ESOK

Kepalaku pusing, ada yang menghambat hidung dalam melakukan pekerjaannya, mata juga ragu untuk membuka, banyak sekali yang minta kupikirkan, kupermasalahkan. Ada virus yang menjangkiti segala kesenangan hidup ini, orang bilang ia cuma kejenuhan sementara, peliharalah mimpi, pugari diri dengan harapan, tapi sayang sekali kesabaran hanya memiliki sedikit bagian dalam perjalanan menuju itu. Ah, kenapa aku masih juga selalu memikirkan yang semestinya dipikirkan esok hari?

MENGANTUK

Dentingan piano melantun di udara, memuutuskan seluruh syaraf, gesekan biola lewati telinga, buat diri terlena, suara ombak berdebur tak hanya menghantam garis-garis pantai tapi juga alam bawah sadarku, bau hujan bekas tadi masih menguap dari pasir pantai ini, awan satu dan awan yang satunya lagi mulai dijembatani pelangi, angin mendesir-desir, mendarat di setiap inchi tubuhku, begitu sejuknya, langit tampak biru cerah meski tadi sempat hujan, cat hijau tumpah ke setiap bagian laut, sampai ke palung-palungnya, burung camar mencuit-cuit, mengayunkan nada paling menyayat. Aku hembuskan napas lega, nikmat sekali didera semua itu. Aku cuma ingin tidur.

KAMI TIDAK PERNAH TAHU

Kami tidak pernah tahu kalau ini akan menjadi medan perang, kami diserbu tanpa pemberitahuan, tanpa persiapan. Kalaupun ada persiapan, apa kami akan bisa menang, atau akan kalah? Mau taruh dimana harga diri kami? Eh, apa kami masih punya itu? Perang terjadi, satu per satu tumbang. Ah, biarlah, kami sudah siap tumbang. Semuanya sudah, tinggal satu nama itu, sebutlah, dia juga sudah siap, sebutlah. Tolong jangan lagi, semuanya sudah tewas, tapi kenapa selalu aku yang dibiarkan hidup?

DENGAR

Dengar, bertahun-tahun aku ditempa sampai sekarang, sudah mau mampus, sudah hampir gepeng seperti tempe, ledes, payah, lelah, sakit, bertahun-tahun juga aku turuti petuahmu, aku pelihara segala yang awalnya tak mungkin tapi sedang dalam proses menjadi mungkin, bertahun-tahun aku selalu bertahan, tetap yakin pada apa yang kau tanamkan dalam diriku tanpa aku sadar, aku mau berhenti sampai di sini saja, tapi setiap melihatmu aku selalu merasa bersalah

MEI

HILANG

Tak ada yang perlu dihitung, tak usah kau tanyakan jam berapa sekarang. Lautan esku tetap tenang meski kau tak menyelam di dalamnya, toh masih banyak yang bersedia menyelam ke dalam kebekuan ini. Aku tak perlu menyadari apapun yang telah datang dan pergi. Aku lihat kau sudah mencapai tepi pantai es, baru aku sadari lautan esku makin hangat.

SULIT

Tak perlu kau menyulitkan hal yang sudah sulit karena sudah begitu sulit segala kesulitan ini, sulitkah untuk berhenti menyulitkan itu dan menyadari masih ada yang lebih sulit untuk dipersulitkan? Kalau tidak, kau akan menjadi makin sulit untukku, untuk kupersulitkan. Sampai-sampai aku sulit mempersulitkan, apa sebenarnya yang kupersulit?

LAUTAN ES

Ada lautan es yang bisa menggenang di manapun ia mau. Dia bisa ada di dalam kulkas, di tengah-tengah es batu dalam gelas kita, bisa juga tiba-tiba ia membasahi udara, menampung segala aktivitas, suara, aroma yang menggamang tak bertali, tak nyata di sekitarnya. Dia juga bisa tergenang, menggenang atau digenangkan di tengah-tengah api di kompor, di sela-sela mesin mobil yang sudah lama dan jauh berjalan, kemudian dia bisa saja melompat dari kepengapan itu semua.

Mulai lagi ia menggenang sembarangan. Setelah menyimpan energi dari benda-benda konduktor itu, dasar lautan es itu mulai membentuk gunung-gunung api yang bisa meletus ketika dia merasa bukan lautan es yang lagi.

Bertahun-tahun dia mencoba bertahan untuk tetap menggenang meski keadaan seringkali tidak memungkinkannya untuk tetap menjaga suhunya yang rendah. Maka dia terpaksa membiarkan salah satu atau beberapa gunung apinya meletus. Dia sadar bahwa makhluk biotik ataupun abiotik memiliki perjuangannya sendiri-sendiri untuk tetap terhitung sebagai makhluk di dunia ini.

Pada suatu hari sesuatu yang agak gawat terjadi pada lautan es itu. Entah kenapa berkali-kali ia tergenang dan terpental kemudian tergenang lagi lalu terpental lagi di tempat-tempat yang terlalu hangat untuknya, sudah tak terhitung lagi berapa kali gunung api yang telah meletus demi menjaga kebekuan dirinya. Sebagai lautan es dia cuma bisa pasrah.

Akhirnya gunung api yang tersisa cuma sebuah. Mungkin tak lama lagi dia pun akan meletus sama halnya seperti yang lain karena seseorang sebentar lagi juga akan menggenangkan lautan es yang makin membuatnya bisa tergeser dari kehidupan ini. PikiranMu memang seringkali membuatnya bingung. Entah kenapa, padahal dia cuma lautan es.

PERGI

Selama ini setiap kehilangan yang aku alami selalu memunculkan semangat dan ide baru. Meski awalnya memang sakit dan bikin pusing, tapi akhirnya akan ada pembaharuan dari dalam diriku sendiri. Tapi kali ini aku tidak juga mendapatkan sesuatu yang baru itu. Padahal hanya otak dan hatiku yang raib entah ke mana bersamanya.

Mati Suri

Pram sudah lama mati

Kenapa baru sekarang ia dicintai

Tri pergi

Diganti Sri

Retty kembali

Hanya mau hak-haknya dipenuhi

Tak tahu kewajibannya ke mana pergi

Lomografi tak terbeli

Tar nikotin terus rusak diri

Hati, diri makin perih tersakiti

Semuanya makin meragukan dan aku cuma dapat rugi

Aku mati suri