Selasa, 18 Agustus 2009

KALAH - MENANG

Setelah bertahun-tahun hidup dan mempelajari hidup, saya menjadi seseorang yang tidak terlalu kecewa saat kalah, juga tidak terlalu senang kalau menang. Buat saya kalah-menang hanya seleksi umum, biasa saja, seleksi yang dibuat oleh manusia, untuk menyeleksi atau menentukan kelanjutan dari usaha manusia lain. Seleksi itu membuat manusia berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Bukannya saya tidak mau mencapai gerbang 'terbaik' itum tapi saya tidak terlalu peduli dengan gerbang itu, karena saya lebih peduli untuk mencapai gerbang yang terdapat sebelum gerbang tersebut, yakni gerbang ketulusan. Yang pentin gyang ini dulu dilewati. Karena saya berusaha untuk Tuhan, diri saya, orang tua saya. Ketiganya itulah yang boleh menyeleksi atau menentukan jalan saya selanjutnya, bukannya malah manusia lain. Makanya, ketika mereka memberitahu saya kalau saya telah menang atau pun kalah, reaksi yang saya berikan sama: tidak percaya. Pastilah mereka bukan Tuhan, diri, atau orang tua saya. Karena ketiganya tidak akan pernah mengatakan atau memberitahu saya telah kalah atau menang. Saya sendiri tidak tahu apa alasannya. Mungkin ketiganya tidak tega.