Kamis, 09 Juli 2009

SEJUTA KALI

Saya masih duduk di depan teve ketika jam mulai merambat waktu di pukul tiga pagi, rumah baru saya jejaki pada setengah duabelas tadi, lagi-lagi perempuan itu harus mengubur dalam-dalam mimpinya untuk memutar kunci pintu depan dan masih membiarkan saya masuk ke dalam rumahnya. Saya baru sadar betapa cocoknya antara televisi dan saya, ketika saya merasa ada hujan asin luntur di pipi saya. Untuk yang kesejuta kali: maaf, bu.

Jkt, 21/6-09