SELAMA INI DI BULAN:
JANUARI
keberadaanMu
akal makin runyam dibabat jarak
terkaparlah aku pada dunia yang siap retak
tersentak lagi akan rancunya arah
bagaimana bisa begitu resah
terus menggali dari ranah yang kian amblas
pelita jadi gelap coba merambas
kala panggilan agungMu bersuar
detik tuntun aku jadi gusar
sunyi penuh bualan
di dalamnya setansetan
siapa yang mereka cari
siapa yang Engkau lindungi
haruskah aku terjerembab lagi
bayangbayang merah terasa hangat di selatan
mereka mengepungku!
apalagi yang Kau sahuti
cepat buat ini jernih
sebelum masa meniti
bulir kering
dengan mudahnya bulir air jadi riak di sungai
tak pernah ada yang tahu dimana hilirnya
bukan pula di puncak
bulir itu tak hanya mengalir
juga berloncatan seperti pikiran
yang suka membuat kepala tertarik ke belakang
bukan menantang hukum alam yang ia anut
dia hanya ingin jadi riak yang berderak
namun bukan yang biasa diinjak
kapalkapal tukang dongak
tetap saja air mengalir
dari hilir
jadi riak bersama bulir
lainnya, di manakah muaranya
peluang merenggang
bulir jadi geram
ia tak mau bermuara dalam diam
beriak bersama detik bagai wadam
tinggal suram di pangkal malam
hukum alam taruhannya
dia bergeming
bulir memaksa kering
riak muara tak temukan bulir air lagi
sungai tinggal akhir dari limbah bualan
o bulir, kau cuma khayalan
lakon apalagi kini
macam penari punyai seribu topeng
hendak jadi siapa kau kini
sebarkan tabirtabir kehidupanmu
sampai mereka pun urung menebakmu
makin pandai kau bermulut tebu
bersungutsungut tapi nampak sipusipu saja
berkemelut sungkan bermuran durja
tungku jadi panas namun kelopak tetap bak puspa
darimana kau belajar semuanya
berhasil kau hanyutkan
aku dalam derasnya bualan
kemudian angin selatan
berhembus, mengabrasi keruhnya keadaan
belum ada yang bisa melakon di balik
detikdetik
ini, tak juga engkau
tak tersisa secuil pun larik
untuk kau jungkir-balikkan
hendak jadi apa kau kini
untuk eM
setetes tercurah di dada
segumpal ludah dari bara
lompat ke dalamnya
menyambar, meledak dalam gelap sunyi
siapa yang sanggup meredamnya
buncahan ompong
panas; ujung daun hangus olehnya
meretaklah di sanubari
di seberang tak ada kurangnya
tak seperti pada diri
seutas tali melilit
buat darah berhenti mengalir
terbayangkan relung jadi sempit
panggilanNya pun cuma semilir
kuning
kita cuma
rasa tanpa jiwa
maka hati-hatilah
mereka tak lagi sibuk dengan tanda
sebab kita sedang mencari selanya
buat eR
Betapa pun aku cuma
bara di dalam sumsummu dan retina.
Menyeruak. Begitu hangatnya
sampai ubunubun. Bilakah
suram tinggalkan pelita?
ketika cuma kita yang harus dipikirkan
rindu
buat ususku
tak mau
dirayu
FEBRUARI
di saung
matahari baru saja menjernihkan
asap hitam bekas kemarin. embun juga masih malas
luluh dari ujung daun. namun paru-paru
telah siap diracun.
maaf, wanita. jangan sampai lalat
menjamah tudung sajimu. dia menyaksikan
aku pergi untuk bersembunyi. demi tuhan
aku muak
dengan panas yang sama. pecahan
yang sama.
di sini mungkin tidak lebih baik
bila aku benar-benar pergi.
cuma aku dianggap waras di sini.
terlihat waras meski ini cuma
pretensi kesekian.
biarlah tuhan yang masih lelap
pelak menontonku sedang bersandiwara.
maaf, ibu. aku
tidak pergi belajar.
perjalanan
latar hamparkan kejenuhan. beralasan atau tidak itu urusan nanti. maka dibawanyalah tungkai ini ke tanah paling gersang. tebet, tanjung mas, universitas pancasila. sampailah kita tanpa disengaja.
kulitnya kita tanggal, akhirnya pun tak kita selesaikan. kita cuma kurir tanpa pendirian. rasanya seribu tahun mendakinya. namun menuruninya kita bersama jam pasir.
apa ini? bentuk kepasrahan diri? tak mengapa, ini cuma sesat yang nikmat. mulailah perasaanku diruncing menyaksikan selendangnya terhampar di naungan sang biru. aku sadar kita semua memang punya lakonnya sendiri. juga engkau.
naungan jadi hitam pekat. keduapuluh matamu menghujat. kutatap kau dalamdalam. rengekan anak kecil, sepatunya yang berisik, gaungan riuh kesenangan. semua itu tak lagi kudengar. mungkin inilah waktunya aku percaya padaMu.
satupuluhtujuh
: Astri Purnama Sari
kau ulangi lagi hidupmu yang kesekian
ketahuilah hidup itu tak hanya sekali
tatkala memang tak secuil pun dapat terulang
maka ratakanlah di jalan yang sama
semuanya punya giliran
tentang hidupmu, sama sepeti hidupku, dia, mereka
tak perlu kelabu membumbung
tinggal resah disamar gelak
terjun gelisah di lepas riang
tak perlu kau bayangkan mengapa ini
begitu lancarnya
di lingkaran ini kita tinggal berlari
dia bisa menjadi segitiga atau persegi
berbeloklah ketika kau temui tikungan
ketika ini bercabang dan kau tak punya kompas, peta,
bahkan tuhan
aku siap jadi semua itu
MARET
ulang tahun
: Minang biru
daun cokelat sudah hangus berkali-kali
membayang-bayangi bentangan angkasa
yang hendak mencapai tepinya
gemericik itu semakin membekukan angin
tinggal gemeletukku yang belum juga
bersambut.
sebentar sebelum tepi
ia melebur jadi satu lagi
dua warna itu telah hilang
mengantarku untuk samapi ke harimu
di balik bayangmu
aku terhuyung
maka aku patri darahku
untuk tetap tersendat di bangku kayu ini
sampai langit tak sanggup lagi
melayangkan warnanya
dan saat itulah kau terima
suratku yang tak pernah sampai
APRIL
buaian ke dalamNya
: Situ Gintung
terhampar aku di kumpulan kapuk rata
imaji sudah tak mengerti hendak ke mana
diri begitu dekatnya dengan maut
di samping, depan, atas, belakang, bawah
dia bentangkan rahang lebarlebar
begitu dekatnya
namun belum sampai
menyaksikan air bukan lagi untuk bersayup mendayu
tanah sudah begitu terlenanya
hingga terbuai jadi garang
air petikkan dawainya sampai
tanah mengayuh makin dalam
terjang! jangan ragu!
lantakkan semua penyombong di bawah
rendah, namun dagu menempel di pinggir awan
biar deru leleh itu jadi sungai baru
di mata kalian
bentuklah sana lagi sendiri
oleh ratapan tak berujung kalian
pelita yang padam untuk sementara waktu
dan kalian akan mendayuh ke sana juga
dan sekarang
cukup.
jangan teruskan gelunganmu, dentarmu.
kami telah bergegas ke dalamNya
yang sedalam-dalamnya.
pecah
gelak sudah kita lahirkan jadi gunung
derai sampai jadi sebuah telaga
hingga bumi kita lahap habishabis bersama
tak bersisa, nonanona. lalu mengapa
gunung muntahkan lahar?
membentuk kali deras tanpa ampun
kini segalanya tercipta jadi dua.
aku pergi bukan tak kembali.
terlalu lamakah sampai harus ada sungai
merentang. merentang di antara
gemunung yang telah kita lahirkan dari
rahim kita semua.
nanti aku. kan kubendung kegandaan itu.
meski diri juga sempat tergulung lahar
bukan berarti cuma sungaisungai
lagi yang kuciptakan. haruskah
(sebenarnya) gunung dan telaga itu kita
susui?
kau tinggalkan aku tenggelam
ke lautan es. terlalu.
TAK SATUPUN
Seorang kaya bingung mau membuang hartanya kemana lagi. Dulu ketika baru menjadi orang kaya dia suka menghambur-hamburkan uangnya untuk berfoya-foya, menikmati surga duniawi. Pergi ke klab malam, mabok-mabokan, menyewa wanita di sana untuk ditiduri. Pokoknya yang bejat-bejat sudah pernah ia lakukan.
Setelah bosan dengan segala kenikmatan berdosa itu sekarang ia berubah menjadi orang alim. Uangnya pergi ke kotak amal, ke tangan fakir-miskin dan anak yatim, juga tumbuh menjadi sebuah masjid. Kalau di masjid itu diadakan acara, tanpa tendeng-aling orang kaya itu akan segera merogoh koceknya dan dengan nama “Hamba Allah” ia selalu mejadi penyumbang dengan jumlah paling besar.
Belum puas dengan segala kebaikan itu dia berusaha mencari wadah di mana lagi akan membuang hartanya. Ketika sedang berkeliling kota diantar supir dengan mobil mewahnya, orang itu mendapatkan jawabannya.
Ketika ia hendak mengunjungi kolong jembatan lainnya, setelah dua kolong ia kunjungi, ia dapati mobil mewahnya sudah hancur. Semua kacanya pecah. Bannya kempes. Bodinya penyok. Hancurlah pokoknya. Supirnya sendiri sedang terbatuk-batuk di pinggir jalan yang sepi dengan muka babak belur. Namun kesepian itu hilang ketika orang kaya itu ingin menghampiri supirnya. Segerombolan orang berlari ke arahnya dengan muka garang. Segera tanpa ampun orang kaya itu dihabisi. Dia menyesali satu hal: mengapa tak satupun yang memberitahunya kalau waktu itu masih hari kampanye pemilu?
RUNTUH
Saat aku sedang berlayar dengan tenang di lautan esku, seorang perompak dengan perahu yang lebih kecil dari punyaku merebut perahuku. Dia ceburkan aku ke lautan esku dan membawa kabur perahuku. Namun belum seberapa jauh ia berhenti, meledekku, menantangku untuk merebut kembali perahuku itu. Biar. Aku tak peduli. Biar. Aku mau tenggelam ke lautan esku. Tapi saat aku hampir mencapai dasarnya, aku teringat wanita itu. Maka aku berenang kembali ke atas lalu terus berenang ke perahuku yang telah direbut. Aku tahu perompak itu cuma ingin melihat jelas akan kekalahanku atas dirinya. Maka setelah aku memenuhi kemauannya yakni menjilati jempol kakinya tiga kali, ia serahkan kembali perahu pemberian dari wanita itu. Ah, bahkan sampai ideologiku pun runtuh hanya demi wanita itu. Wanita yang bertahun-tahun ini kupanggil “Ibu”.
BOM
Aku beli bom di perempatan jalan
SEPI
Seekor burung terlambat kabur ketika ia dan kawanannya menjadi sasaran tembak pemburu. Dia sudah pasrah kalau mau diambil nyawanya, ambillah, karena kawan-kawannya telah jatuh tewas. Tapi ternyata tiba-tiba pemburu itu diserang sakit peruh yang sangat. Maka pemburu itu lari terbirit-birit mencari tampat buat buang hajat. Burung itu membuka matanya karena sudah lama ia merem menanti mautnya yang tak pernah sampai. Dia bersyukur masih diberi kesempatan hidup oleh Sang Pencipta. Tiga hari setelah kejadian itu burung itu merasa sedih, kini ia hidup sendiri tanpa keluarga, teman, kekasih, bahkan musuh. Dia memekik dengan lantang ke langit, “Kenapa waktu itu aku tak mati saja?” Entah kepada siapa. Tak lama setelah ia berteriak penuh sesal, jatuhlah koran pagi langganannya dari langit seperti biasa. Headline pagi itu: “In Memoriam: Seluruh Pemburu Burung di Dunia”.
BUNTU
Seorang penyair kerjaannya cuma sibuk sendiri di kamarnya. Konon ia hanya membaca, menulis, lalu membaca dan menulis lagi. Dia keluar dari kamarnya hanya sekali setiap hari. Saat keluar itulah dia melepaskan dahaga, lapar, serta buang hajatnya yang sudah ia tahan-tahan. Begitu banyak yang sudah ia baca, tak sedikit juga yang sudah ia tulis. Tak ada yang berani memasuki kamarnya tanpa seizinnya. Tapi pada suatu hari, yang kebetulan hari ulang tahun penyair itu, teman-teman dekatnya rindu dan datang ke rumahnya dan tanpa ragu-ragu memberinya kejutan, “Selamat ulang tahun!” mereka berbondong-bondong masuk ke kamarnya. Penyair itu tertegun kaget. Kagetnya baru hilang setelah diberi minum segelas air putih. Ia sadar dan seperti measa menemukan dunia baru. Selanjutnya tak ada lagi buku tersentuh tangannya juga tak satupun bovel, cerpen atau sajak yang tercipta atas nama dirinya. Maka jangan pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepada penyair karena itu hanya akan mematikan kreatifitasnya, karena dia sendiri tidak tahu kapan ia lahir, karena setiap melahirkan sebuah karya saat itulah ia merasa dilahirkan kembali.
KATA SIAPA
Kata siapa manusia tidak bisa hidup tanpa cinta? Bisa jadi itu tak sepenuhnya benar. Karena sejak kapan diri saya dipenuhi cinta? Saya tidak butuh hal-hal yang tidak mengenyangkan perut saya, maka untuk apa saya bawa-bawa cinta dalam setiap perbuatan saya, pikiran, emosi, perasaan saya? Buat apa saya ajak dia dalam setiap kepergian atau perjalanan saya? Barangkali cinta memang tak dibutuhkan, tapi saya butuh satu keraguan yang membuat saya tetap hidup. Keraguan untuk membenci.
ESOK
Kepalaku pusing, ada yang menghambat hidung dalam melakukan pekerjaannya, mata juga ragu untuk membuka, banyak sekali yang minta kupikirkan, kupermasalahkan. Ada virus yang menjangkiti segala kesenangan hidup ini, orang bilang ia cuma kejenuhan sementara, peliharalah mimpi, pugari diri dengan harapan, tapi sayang sekali kesabaran hanya memiliki sedikit bagian dalam perjalanan menuju itu. Ah, kenapa aku masih juga selalu memikirkan yang semestinya dipikirkan esok hari?
MENGANTUK
Dentingan piano melantun di udara, memuutuskan seluruh syaraf, gesekan biola lewati telinga, buat diri terlena, suara ombak berdebur tak hanya menghantam garis-garis pantai tapi juga alam bawah sadarku, bau hujan bekas tadi masih menguap dari pasir pantai ini, awan satu dan awan yang satunya lagi mulai dijembatani pelangi, angin mendesir-desir, mendarat di setiap inchi tubuhku, begitu sejuknya, langit tampak biru cerah meski tadi sempat hujan, cat hijau tumpah ke setiap bagian laut, sampai ke palung-palungnya, burung camar mencuit-cuit, mengayunkan nada paling menyayat. Aku hembuskan napas lega, nikmat sekali didera semua itu. Aku cuma ingin tidur.
KAMI TIDAK PERNAH TAHU
Kami tidak pernah tahu kalau ini akan menjadi medan perang, kami diserbu tanpa pemberitahuan, tanpa persiapan. Kalaupun ada persiapan, apa kami akan bisa menang, atau akan kalah? Mau taruh dimana harga diri kami? Eh, apa kami masih punya itu? Perang terjadi, satu per satu tumbang. Ah, biarlah, kami sudah siap tumbang. Semuanya sudah, tinggal satu nama itu, sebutlah, dia juga sudah siap, sebutlah. Tolong jangan lagi, semuanya sudah tewas, tapi kenapa selalu aku yang dibiarkan hidup?
DENGAR
Dengar, bertahun-tahun aku ditempa sampai sekarang, sudah mau mampus, sudah hampir gepeng seperti tempe, ledes, payah, lelah, sakit, bertahun-tahun juga aku turuti petuahmu, aku pelihara segala yang awalnya tak mungkin tapi sedang dalam proses menjadi mungkin, bertahun-tahun aku selalu bertahan, tetap yakin pada apa yang kau tanamkan dalam diriku tanpa aku sadar, aku mau berhenti sampai di sini saja, tapi setiap melihatmu aku selalu merasa bersalah
MEI
HILANG
Tak ada yang perlu dihitung, tak usah kau tanyakan jam berapa sekarang. Lautan esku tetap tenang meski kau tak menyelam di dalamnya, toh masih banyak yang bersedia menyelam ke dalam kebekuan ini. Aku tak perlu menyadari apapun yang telah datang dan pergi. Aku lihat kau sudah mencapai tepi pantai es, baru aku sadari lautan esku makin hangat.
SULIT
Tak perlu kau menyulitkan hal yang sudah sulit karena sudah begitu sulit segala kesulitan ini, sulitkah untuk berhenti menyulitkan itu dan menyadari masih ada yang lebih sulit untuk dipersulitkan? Kalau tidak, kau akan menjadi makin sulit untukku, untuk kupersulitkan. Sampai-sampai aku sulit mempersulitkan, apa sebenarnya yang kupersulit?
LAUTAN ES
Ada lautan es yang bisa menggenang di manapun ia mau. Dia bisa ada di dalam kulkas, di tengah-tengah es batu dalam gelas kita, bisa juga tiba-tiba ia membasahi udara, menampung segala aktivitas, suara, aroma yang menggamang tak bertali, tak nyata di sekitarnya. Dia juga bisa tergenang, menggenang atau digenangkan di tengah-tengah api di kompor, di sela-sela mesin mobil yang sudah lama dan jauh berjalan, kemudian dia bisa saja melompat dari kepengapan itu semua.
Mulai lagi ia menggenang sembarangan. Setelah menyimpan energi dari benda-benda konduktor itu, dasar lautan es itu mulai membentuk gunung-gunung api yang bisa meletus ketika dia merasa bukan lautan es yang lagi.
Bertahun-tahun dia mencoba bertahan untuk tetap menggenang meski keadaan seringkali tidak memungkinkannya untuk tetap menjaga suhunya yang rendah. Maka dia terpaksa membiarkan salah satu atau beberapa gunung apinya meletus. Dia sadar bahwa makhluk biotik ataupun abiotik memiliki perjuangannya sendiri-sendiri untuk tetap terhitung sebagai makhluk di dunia ini.
Pada suatu hari sesuatu yang agak gawat terjadi pada lautan es itu. Entah kenapa berkali-kali ia tergenang dan terpental kemudian tergenang lagi lalu terpental lagi di tempat-tempat yang terlalu hangat untuknya, sudah tak terhitung lagi berapa kali gunung api yang telah meletus demi menjaga kebekuan dirinya. Sebagai lautan es dia cuma bisa pasrah.
Akhirnya gunung api yang tersisa cuma sebuah. Mungkin tak lama lagi dia pun akan meletus sama halnya seperti yang lain karena seseorang sebentar lagi juga akan menggenangkan lautan es yang makin membuatnya bisa tergeser dari kehidupan ini. PikiranMu memang seringkali membuatnya bingung. Entah kenapa, padahal dia cuma lautan es.
PERGI
Selama ini setiap kehilangan yang aku alami selalu memunculkan semangat dan ide baru. Meski awalnya memang sakit dan bikin pusing, tapi akhirnya akan ada pembaharuan dari dalam diriku sendiri. Tapi kali ini aku tidak juga mendapatkan sesuatu yang baru itu. Padahal hanya otak dan hatiku yang raib entah ke mana bersamanya.
Mati Suri
Pram sudah lama mati
Kenapa baru sekarang ia dicintai
Tri pergi
Diganti Sri
Retty kembali
Hanya mau hak-haknya dipenuhi
Tak tahu kewajibannya ke mana pergi
Lomografi tak terbeli
Tar nikotin terus rusak diri
Hati, diri makin perih tersakiti
Semuanya makin meragukan dan aku cuma dapat rugi
Aku mati suri