Selasa, 18 Agustus 2009
KALAH - MENANG
Setelah bertahun-tahun hidup dan mempelajari hidup, saya menjadi seseorang yang tidak terlalu kecewa saat kalah, juga tidak terlalu senang kalau menang. Buat saya kalah-menang hanya seleksi umum, biasa saja, seleksi yang dibuat oleh manusia, untuk menyeleksi atau menentukan kelanjutan dari usaha manusia lain. Seleksi itu membuat manusia berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Bukannya saya tidak mau mencapai gerbang 'terbaik' itum tapi saya tidak terlalu peduli dengan gerbang itu, karena saya lebih peduli untuk mencapai gerbang yang terdapat sebelum gerbang tersebut, yakni gerbang ketulusan. Yang pentin gyang ini dulu dilewati. Karena saya berusaha untuk Tuhan, diri saya, orang tua saya. Ketiganya itulah yang boleh menyeleksi atau menentukan jalan saya selanjutnya, bukannya malah manusia lain. Makanya, ketika mereka memberitahu saya kalau saya telah menang atau pun kalah, reaksi yang saya berikan sama: tidak percaya. Pastilah mereka bukan Tuhan, diri, atau orang tua saya. Karena ketiganya tidak akan pernah mengatakan atau memberitahu saya telah kalah atau menang. Saya sendiri tidak tahu apa alasannya. Mungkin ketiganya tidak tega.
Kamis, 09 Juli 2009
SEJUTA KALI
Saya masih duduk di depan teve ketika jam mulai merambat waktu di pukul tiga pagi, rumah baru saya jejaki pada setengah duabelas tadi, lagi-lagi perempuan itu harus mengubur dalam-dalam mimpinya untuk memutar kunci pintu depan dan masih membiarkan saya masuk ke dalam rumahnya. Saya baru sadar betapa cocoknya antara televisi dan saya, ketika saya merasa ada hujan asin luntur di pipi saya. Untuk yang kesejuta kali: maaf, bu.
Jkt, 21/6-09
Jkt, 21/6-09
Selasa, 23 Juni 2009
purnama dalam sekelebat mendung
hei, kau yang angkuh di atas sana
baru tiba kau di peraduan?
wajahmu begitu pucat merana
muncul mengantarkan tangisan
aku nanti kau. berkali-kali sudah
kutengok rahim hujan
untuk sekedar merambah
kau pun tak juga sungkan
langit sesenggukan
aku tinggalkan dia yang sebelah sana
tak tahu malu, tak tahu diri
di sini rupanya kau tampakkan diri
jauh-jauh diciptakan untuk kabarkan rindu
untuk beberkan betapa lemahnya waktu
dibandingkan dirimu
o, kau yang pucat di sana
harusnya Tuhan penuhkan kau
malam ini
tak tahukah kau pun cuma benalu
aku rindu
Jkt, 13-6-09, 11.52 pm
baru tiba kau di peraduan?
wajahmu begitu pucat merana
muncul mengantarkan tangisan
aku nanti kau. berkali-kali sudah
kutengok rahim hujan
untuk sekedar merambah
kau pun tak juga sungkan
langit sesenggukan
aku tinggalkan dia yang sebelah sana
tak tahu malu, tak tahu diri
di sini rupanya kau tampakkan diri
jauh-jauh diciptakan untuk kabarkan rindu
untuk beberkan betapa lemahnya waktu
dibandingkan dirimu
o, kau yang pucat di sana
harusnya Tuhan penuhkan kau
malam ini
tak tahukah kau pun cuma benalu
aku rindu
Jkt, 13-6-09, 11.52 pm
kumbang
detik terkamku cekamcekam
sembilan puluh ribu detik
di setiap kelamnya
gelank dikungkung orang di hadao
ngiungnya melingkup seluruh ruangan
darah siap berhenti mendesir
napas seketika menderu-deru
jam mulai berlari mundur
tanpa menoleh!
nging..
kumbang kuasai rohku
9-6-09
sembilan puluh ribu detik
di setiap kelamnya
gelank dikungkung orang di hadao
ngiungnya melingkup seluruh ruangan
darah siap berhenti mendesir
napas seketika menderu-deru
jam mulai berlari mundur
tanpa menoleh!
nging..
kumbang kuasai rohku
9-6-09
REFLEKSI
mengapa itu tidak untuk makan saja?
“kalau makan, percuma, nanti akan lapar lagi. lebih baik begini. tidak makan, lapar terus-menerus. lebih baik untuk merokok. semuanya hilang kalau merokok.”
mengapa tidak merokok saja tadi?
“kalau merokok lagi, nanti ketagihan kagi, kecanduan. lebih baik seperti ini. asam, tersiksa terus-terusan. lebih enak kalau tidur saja.”
lalu kau tidak tidur?
“untuk apa? kalau tidur, lalu nanti bangun. setelah bangun nanti akan ngantuk, ingin tidur lagi. lebih bagus mati. semuanya selesai kalau mati.”
ya sudah, matilah.”
“kalau mati, ya nanti akan hidup kembali karena katamu kan ada kehidupan setelah kematian. harusnya aku diam saja.”
aku lekas berteriak dengan lantang, “jangan!” pada bayanganku di cermin itu.
ternyata aku masih punya kekuatan untuk memelihara nurani.
“kalau makan, percuma, nanti akan lapar lagi. lebih baik begini. tidak makan, lapar terus-menerus. lebih baik untuk merokok. semuanya hilang kalau merokok.”
mengapa tidak merokok saja tadi?
“kalau merokok lagi, nanti ketagihan kagi, kecanduan. lebih baik seperti ini. asam, tersiksa terus-terusan. lebih enak kalau tidur saja.”
lalu kau tidak tidur?
“untuk apa? kalau tidur, lalu nanti bangun. setelah bangun nanti akan ngantuk, ingin tidur lagi. lebih bagus mati. semuanya selesai kalau mati.”
ya sudah, matilah.”
“kalau mati, ya nanti akan hidup kembali karena katamu kan ada kehidupan setelah kematian. harusnya aku diam saja.”
aku lekas berteriak dengan lantang, “jangan!” pada bayanganku di cermin itu.
ternyata aku masih punya kekuatan untuk memelihara nurani.
kenangan
sudah lama diam menjadi dingin
sudah lama pengap jadi hangat
sudah lama tatap jadi rindu
tapi ini masih jalan diponegoro
sudah lama pengap jadi hangat
sudah lama tatap jadi rindu
tapi ini masih jalan diponegoro
BETAPA PUN
betapa pun saya bukan siapa-siapa untukmu. tidak akan bisa menjadi ‘dia’ yang kau inginkan. sebagaimanapun saya berusaha, itu muskil. segala yang saya harapkan cuma tinggal khayal belaka. tapi perasaan bukan sesuatu yang bisa berbohong dan dibohongi. mengapa harus berjuang dan bertahan dalam kepura-puraan, kalau kita diberikan kesempatan untuk menjadi jujur dan apa adanya dan pasrah? semua sudah diatur, semua sudah tersedia, tinggal kita yang menyelesaikan, dengan sebaik dan setepat-tepatnya.
maka kalau kau menemukan saya masih juga bertahan dalam sesuatu yang kau anggap pretensi saya yang kesekian, jangan heran, tidak perlu heran. karena semua sudah diatur, tinggal saya yang menyelesaikan dengan sebaik dan setepat mungkin. namun bagi saya saat ini bukanlah waktu yang baik dan tepat untuk berhenti berjuang dalam kepura-puraan, karena bagaimanapun segala penipuan ini amatlah nikmat. entah kenapa memang dari dulu manusia lebih suka yang beresiko daripada yang sudah sesuai pakem.
Langganan:
Postingan (Atom)