Minggu, 23 November 2008

yang terdahulu 1

di tepi senja
di tepi waktu yang semakin senja
lambat laun nafasku naik turun
mencari persembunyian kian larut
di persimpangan ini aku berlutut
dalam keadaan carut marut

lembah pelangi di balik kabut
mencoba beberkan tabir yang lalu
namun kalah oleh runcingnya hujan
mengalir rendah air kemudian

tak kekurangan sesuatu pun unutk berlalri
namun mengapa tidak?
malah mendobrak buramnya refleksi
ada abu menoreh di sana

mungkin benar itu aku, berdarah
tapi itu aku tentu, bersimpuh
bila pelangi tak kunjung lusuh
dan senja tak juga pudar,
mengapa engkau berserpihan?

27/1-08
renungan pagi
untuk siapa dia pergi?
yang kelak aku tahu jawaban itu
kemudian ia tak pernah hidup lagi
kuraih pisau, kurobek hatiku dari jaringannya
di sanalah senyum, tangis dan amarahnya tinggal
mengapa terburu-buru?

aneh mengetahui hal itu masih ada
kembali tergali tak sengaja setelah sekian lama
hingga hujan tak lagi menyenangkan
dan terlalu sibuk mengejarku di kemudian
mengapa tergali?

pelangi terlalu kejam untuk terbit
tembok makin berisik di tiap detiknya
mencoba keluar dari semen-semen dingin itu
dia! aku melihatnya jelas sekali
namun nyatanya dirinya terlalu megah untuk kujangkau
berapa anak tangga pun tak sanggup berdiri ke sana
aku hanya menantinya hingga ia turun ke sini nanti
mengapa terlalu tinggi?

21/2-08
telusuri sabana
pedihnya pasir debu
tak pecahkan air mataku
teriknya matahari
tak alirkan peluhku

di ujung sabana ini
tempat aku berhenti
terduduk, menenggak lelah sendiri
kemudian bangkit lagi

lelah pikirku
letih pijakanku
hanya takdir yang tersisa
di pinggir mimpi-mimpiku
hanya takdir lagi

kucium lututku
sabuah akhir dari ego ini
berani melawan kenyataan
lalu terhempas ke alam bawah sadar

depakkan kuda tak sanggup lagi lukanya hati
beratnya purnama tak kalahkan letihnya hati
habisnya telaga tak robohkan amarahnya hati

hanya keberadaan yang dikagumi
sanggup terbang mimpi-mimpi jauh
luka, letih, amarahnya hati ini
hanya Dia

9/12-07
kita tidak sedang bermimpi
melewati semuanya tanpa merasakan
merenung namun tak berujung
jadi ini apa, tuhan?
kebohongan dijadikan pelindung

manusia menekuk lututnya
lalu menangis merintih
dipandangi oleh senja yang makin maya
untuk dapatkan malam yang tak kalah pipih

kemudian awan kelabu tertawa
ikutnya aku bersama
menertawakan keadaanku
kita tidak sedang bermimpi ‘kan, tuhan?

cepat datangkan fajar
sebelum malam menangis
dan bila waktuku tak terkejar
maka batu di ujung pantai segera terkikis

inikah hidup
sesuatu yang berbau kegelisahan
dan aku ingin tahu
jelas kita tidak sedang bermimpi

19/4-06
lagu klasik di tengah laut (edit)
kini aku berada di tepi laut bersamamu
memandang laut yang mengejar kaki langit
penat dilahap keheningan, aku bertanya
“apa yang sedang kita lakukan?”
tak satupun yang bermulut menjawab
petir mulai melagukan gemuruhnya
menggubah lagu klasik di tengah laut
aku bangkit ditariknya
meninggalkanmu yang mencoba memahami lagu itu
aku tak peduli lagi akan dirimu dan lagu
petir tahu aku mulai memujanya, berangkat ia jadi sombong
lagu berubah jadi pecah belah
hentakan kaki anak-anak kecil mengiringinya
tiba-tiba keadaan jadi senyap
angin berpamitan dari sampingku, meninggalkan keheningan
sepi...
hanya ombak yang berbisik berdebur
petir takut, ia mainkan lagi lagu itu
dan aku pun mulai tahu
kita sedang jadi pemain gendang di tepi laut

13/1-04
dunia baru (edit)
ada sebuah jendela
di mana kau akan ke sana
di mana kau akan jadi tiada

ada sebuah pintu
sedang menunggumu
agar kau masuk ke situ

ada sebuah tangan yang menahan
sebuah kesenangan

tanganku. sudah tak akan mencegahmu
untuk kau pergi ke dunia baru

pergilah!
tapi ingat:
aku masih hidup

19/5-03
tentang siapa (edit)
aku tentu bukan penyair
bukan juga pelukis
yang suka berakhir di pesisir
kemudian pantai mulai terkikis

tapi aku benar-benar terkikis
lihat!
tapi kau tak boleh terlalu dalam menyelam
nanti tenggelam
di balik masaku yang kelam

3/5-03
perjuangan (edit)
punya otak tidak
kalau tidak
berarti kamu seperti kapak
yang membersihkan kerak-kerak
tak peduli pintu terus berderak

seperti burung
yang tak pernah berpikir
besok akan cari makan di mana

lucu sekali berkhayal dan bermimpi
di depan pintu sambil terkantuk

apa yang sedang kutulis
sesuatu berirama picis
diteriakan dengan lantang
dan pistol pun dikokang

9/3-03
semuanya di sore hari (edit)
sore tak pernah berbicara tentang siang
yang terang
atau yang kusut
telah dilewati dengan segala raut

3/3-03

Tidak ada komentar: